Pembangkit Listrik Biogas dalam Gelaran Pameran ICCEFE 2016

foto2

Jakarta – Indonesia Climate Change Education Forum and Expo 2016 atau yang lebih dikenal sebagai ICCEFE 2016 merupakan gelaran forum dan pameran mengenai perubahan iklim dan lingkungan di Indonesia. ICCEFE 2016 ini merupakan kali ke-6 sejak diluncurkan pada tahun 2010. ICCEFE 2016 dilaksanakan dari hari Kamis – Minggu, 14-17 April 2016 di Assembly Hall, Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta. Forum dan Pameran perubahan iklim ini dibuka secara resmi oleh Rachmat Witoelar, staf khusus presiden untuk pengendalian perubahan iklim di Indonesia serta dihadiri oleh beberapa pejabat kementerian terkait.

ICCEFE 2016 ini merupakan forum dan pameran perubahan iklim terbesar di Indonesia dengan tema tahun 2016 ini “Solutions to Climate Change”. Selain pameran, ICCEFE 2016 ini juga merupakan ajang untuk bertukar informasi mengenai perubahan iklim salah satunya melalui dunia pendidikan. Dunia pendidikan dapat memberikan pemahaman dasar mengenai perubahan iklim pada pelajar sebagai generasi penerus yang harus memelihara dan menjaga lingkungan hidup untuk keberlangsungan lingkungan yang sehat dan tentunya mengurangi pengaruh perubahan iklim.

Perhelatan ICCEFE 2016 ini diikuti berbagai Kementerian dan Lembaga terkait baik pemerintah maupun swasta, pemerintah daerah, BUMN, perusahaan swasta, organisasi lingkungan, dan lembaga swadaya masyarakat. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) turut berpartisipasi dalam pameran perubahan iklim 2016 ini dengan menampilkan beberapa hasil penelitian dari beberapa satuan kerja. Satuan kerja yang turut aktif dalam ICCEFE 2016 ini diantaranya adalah Pusat Penelitian (Puslit) Telimek, Puslit Informatika, Puslit Elektronika dan Elektronik, Puslit Bioteknologi, Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) LIPI.

Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik (Puslit Telimek) LIPI menampilkan hasil penelitian berupa pembangkit listrik dari limbah organik atau lebih dikenal sebagai pembangkit listrik biogas. Biogas itu sendiri merupakan gas yang dihasilkan dari fermentasi material organik yang dihasilkan lingkungan sekitar. Limbah organik yang paling populer dikenal salah satunya limbah yang berasal kotoran sapi. Kotoran sapi merupakan salah satu penyebab terjadinya global warming, hal ini karena dari kotoran sapi tersebut dihasilkan gas metana. Gas metana merupakan gas alami yang dihasilkan mikroorganisme saat menguraikan kotoran sapi. Gas metana mengandung emisi efek rumah kaca 23 kali lebih besar dibandingkan dengan gas karbondioksida (CO2). Berdasar fakta tersebut, Puslit Telimek berinisiatif memanfaatkan kotoran sapi tersebut menjadi sumber energi terbarukan biogas. Biogas dari kotoran sapi dapat dimanfaatkan menjadi sumber energi untuk memasak, bahkan saat ini Puslit Telimek telah berhasil mengembangkan teknologi pembangkit listrik dari biogas. Teknologi pembangkit listrik biogas tersebut saat ini terus dikembangkan di Pondok Pesantren Baiturrahman, Ciparay – Bandung dengan kapasitas 10kW. (rif/php)