Jangan Buang Maskermu! Pengelolaan Limbah Masker untuk Memutus Mata Rantai Covid-19

 

Bandung, Februari 2021. Peningkatan konsumsi masker sekali pakai (disposable mask) kian meningkat di tengah situasi pandemi Covid-19 yang belum kunjung mereda. Fakta bahwa masker sekali pakai memiliki tingkat kerapatan yang lebih tingi dibanding masker kain dalam menyaring partikel virus menyebabkan masyarakat banyak yang lebih memilih untuk menggunakan masker sekali pakai. Namun, hal tersebut menimbulkan polemik lainnya, yakni peningkatan volume sampah masker bekas pakai dan penanganannya agar tidak menjadi mata rantai baru penyebaran virus Covid-19. Menanggapi hal tersebut, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Satuan Gugus Tugas Nasional Penanggulangan Covid-19, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia menggelar webinar berjudul “Pengelolaan Limbah Masker di Masa Pandemi, Jangan Buang Maskermu!” pada Selasa (16/2).

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Agus Haryono, menyampaikan dalam paparannya pentingnya sinergitas dalam menyelesaikan masalah limbah masker. “Kita perlu bersinergi satu dengan yang lainnya untuk mengatasi masalah limbah masker,” jelasnya. Lebih lanjut Agus menjelaskan bahwa limbah masker ini menjadi polemik karena bila dibuang ke alam membutuhkan waktu lama untuk dapat terurai, sedangkan bila dibiarkan khawatir akan infeksius dari limbah tersebut.

Menanggapi problematika limbah medis, beberapa satuan kerja di LIPI berupaya untuk memfokuskan diri pada riset pengelolaan limbah medis. Salah satu peneliti LIPI yang terlibat adalah Arifin Nur. Peneliti dari Pusat Penelitian tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI ini memaparkan hasil penelitiannya yakni Incinerator Sampah Infeksius Covid-19 yang diperuntukan untuk penggunaan di sektor industri dan perkantoran. “Penelitian kami bertujuan untuk menghasilkan teknologi yang mudah dipahami masyarakat, ekonomis, dan dapat digunakan untuk menyokong kebutuhan alat penghancur limbah medis Covid-19 yang masih terbatas di  beberapa daerah di Indonesia,” ungkapnya dalam pemaparannya.

Pembicara lainnya, Ratih Asmana Ningrum, peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI menyampaikan bahwa untuk penanganan limbah masker secara sederhana dapat mengunakan alkohol atau cairan desinfektan, atau dipanaskan di suhu 70oC selama 45 menit lalu kemudian dipisahkan dari sampah lainnya baru dapat dibuang ke tempat sampah. Ia berharap masyarakat lebih peduli dan dapat memulai langkah kecil dan sederhana  untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19. (DDY/NU)